Sirkular Ekonomi

Oleh: Nikita T

 

 

Sumber gambar: https://www.google.com/search?q=Rethink,+reduce-repair-recycle&safe

 

Kita mengenal istilah 3 R yakni Reduce, Reuse, dan Recycle, ketiga definisi ini selalu dikaitkan dengan penggelolaan barang-barang kebutuhan kita. Istilah Reduce berarti mengurangi barang produksi kita, Reuse istilah menggunakan kembali barang yang kita pakai, dan recycle medaur ulang barang yang tidak kita perlukan. Kondisi yang ada saat ini terjadi adalah sumber daya alam terbatas, tetapi kebutuhan manusia semakin banyak, seiring dengan jumlah pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi, tercatat berdasarkan data dari Worldometers dalam databoks.katadata.co.id menyebutkan bahwa jumlah penduduk di dunia tahun 2019 mencapai 7,7 miliar jiwa, angka ini naik 1,08 % dari tahun 2018 yang sebelumnya 7,6 miliar jiwa.

 

Pertumbuhan penduduk yang tinggi meningkatkan konsumsi dan produksi barang yang semakin tinggi pula, namun tanpa kita sadari produksi barang yang kita gunakan ternyata memberikan dampak yang sangat besar terhadap emisi karbon, diantaranya adalah industri fashion yang menggunakan 93 billion meter kubik untuk air, dan 20% penggunaan air yang terbuang dari pabrik, industri busana menghabiskan 10% emisi karbon dan diperkirakan akan meningkatan sebesar 50% di tahun 2030. Kurang dari 1% bahan pakaian digunakan kembali untuk produksi garmen baru.

 

Setiap tahunnya plastik microfiber larut di lautan, dan 50 billion berasal dari botol plastik, microplastik tidak dapat tertarik dari air, dan menyebar di lautan menjadi suatu rantai makanan, bilamana dikonsumsi oleh manusia dapat berbahaya bagi kesehatan. Oleh sebab itu, untuk mengurangi produksi industry garmen dan plastik, tidak cukup menggunakan prinsip 3R, tetapi bersama-sama menerapkan prinsip sirkular ekonomi, yakni menggunakan kembali produksi barang yang sudah tidak terpakai, fungsi ini bukan hanya dilakukan oleh konsumen tetapi produsen dan penyedia barang memberikan ruang untuk memproduksi kembali apa yang sudah diproduksi.

 

Menurut Ellen Macarthur, sirkular ekonomi adalah prinsip mendesain ulang sampah dan polusi yang berasal dari produk dan material yang kita gunakan, serta menghidupkan kembali sistem alam. Sirkular ekonomi memaksa pebisnis untuk memikirkan ulang kembali semua produksi yang mereka gunakan, dan bagaimana mendesain produk yang memiliki hubungan dengan customer. Fokus utamanya tidak kepada memperpanjang konsumsi tetapi penggunaan dari fungsi. Perusahaan akan memperpanjang komponen dan produk, sehingga memiliki nilai dalam pengelolaan industri, dan menggunakan kembali desain yang telah ada, sehingga barang-barang yang sudah tidak terpakai dapat diperbaharui oleh perusahaan tersebut, dengan demikian perusahaan tidak akan menambah biaya produksi secara berlebihan. Keuntungan yang didapatkan bila penerapan sirkular ekonomi ini berjalan sesuai dengan target, maka nilai yang didapat jauh lebih besar, yakni dapat menghemat energi dan sumber daya alam, kemudian mendesain ulang produksi dengan nilai seni yang tinggi, serta meningkatkan pendapatan bisnis menjadi lebih bervariasi dan melibatkan komponen masyarakat melalui produk-produk yang tidak terpakai lagi. Bagi konsumen, busana yang sudah tidak terpakai lagi, dapat disalurkan melalui industri fashion yang membutuhkan untuk dikelola kembali, selain itu dapat difungsikan sebagai barang-barang yang dibutuhkan, seperti konsumen dapat membuat masker dari baju yang sudah tidak terpakai, atau membuat kerajinan unik lainnya yang memiliki nilai seni yang tinggi.

 

Prinsip ekonomi tidak lagi menuju arah linear, artinya tidak lagi dengan konsep “take-make-dump” tetapi lebih diarahkan menjadi “energy for renewable sources: Rethink, reduce-repair-recycle-“

 

References:

https://sustainabilityguide.eu/sustainability/circular-economy/

https://www.ellenmacarthurfoundation.org/circular-economy/concept