Oleh: Khoirunnisa nur Hidayah

Assalamu’alaikum, selamat sore kawan-kawan. Semoga selalu diberi kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa ditengah virus yang sedang merebak dan ramai diperbincangkan di belahan dunia manapun, salah satunya virus ini telah masuk ke negeri tercinta kita, Indonesia. Sebenarnya tulisan ini sudah saya buat jauh sebelum akhirnya diunggah ke blog.

Sesuai dengan judul, sebetulnya tulisan ini bertujuan menyuarakan pendapat saya pribadi atau keluhan tentang tranportasi umum yaitu, Transjakarta. Sepertinya agak mustahil jika bicara tentang kemacetan Jakarta yang dapat teratasi. Sebagai mahasiswi yang tinggal di perbatasan Jakarta Timur dan Jawa Barat, saya terus merasakan macetnya laju kendaraan di beberapa jalan besar. Yang paling sering terjadi yakni di Jalan Alternatif Cibubur. Untuk menghindari atau tidak lagi lewat jalan tersebut sangatlah tidak mungkin. Karena saya sebagai pengguna Transjakarta harus naik dari Cibubur Junction yang tujuannya ke BKN, Cililitan.

gambar milik https://www.transjakarta.co.id/produk-dan-layanan/layanan-bus/transjakarta/

Transjakarta merupakan kendaraan yang disediakan oleh pemerintah khususnya di Jakarta. Dari Cibubur, saya harus menuju BKN melalui Tol Jagorawi. Kemacetan pun tidak terelakkan. Bahkan, ketika pertama kali menulis tulisan ini, saya sedang bermacet-macetan di jalan tol. Jalan tol yang dibangun dengan harapan dapat mengurangi kemacetan di jalan raya, ternyata belum sepenuhnya terwujud. Mungkin hanya di waktu-waktu tertentu saja kendaraan dapat melaju tanpa harus merasakan macet.

Belum selesai macet di jalan tol, lagi-lagi saya harus merasakan macet saat bus ingin berhenti di Halte Cawang UKI. Ratusan bahkan mungkin ribuan kendaraan roda dua maupun roda empat memadati jalanan yang tujuannya arah BNN. Senin pagi kalau sedang apes, bisa setengah jam menuju Cawang UKI yang sebenarnya hanya beda satu halte dengan Halte BKN. Normalnya, 2-5 menit sudah sampai. Setelah berhasil melewati Halte Cawang UKI, jalanan sempat lancar. Namun, lagi-lagi harus merasakan macet di Halte Pedati Prumpung. Biasanya saya menaiki bus koridor 10 Tanjungpriok-PGC. Penumpang yang banyak namun armadanya kurang membuat banyak yang terpaksa harus berdiri. Belum lagi kesal dengan pemuda pemudi yang masih muda memilih untuk tidur, atau bahkan pura-pura. Tujuannya agar tetap duduk sampai tujuan.

Jalan Sutoyo (arah BNN)
Alhasil, sampai di kampus pun kadang mepet dengan jam perkuliahan. Di kelas, saya banyak cerita dengan beberapa kawan tentang keluhan saya sehabis turun dari bus. Kami memang sering bertukar cerita seputar keberangkatan dari rumah hingga kampus, ada saja peristiwa sebagai pengantar sebelum dimulai perkuliahan. Namun, ada yang menarik ketika mendengar kawan dari Ciledug bercerita. Busnya hampir tidak pernah merasakan macet hingga halte tertentu. Itu dikarenakan koridor 13 memiliki jalan khusus untuk bus Transjakarta sendiri, dalam artian tidak ada kendaraan lain yang menggunakan jalan tersebut, kecuali Transjakarta. Tidak heran Ciledug-UNJ bisa ia tempuh hanya dalam waktu 1-1,5 jam. Sedangkan saya, hanya di hari tertentu dalam perjalanan memakan waktu 1 jam. Berikut saya tampilkan potret dari jalan layang koridor 13.

Jalan layang milik koridor 13
Gambar milik http://www.harnas.co/2017/08/13/hari-ini-transjakarta-gratiskan-koridor-13-

Mungkin jalan layang khusus Transjakarta dapat dibangun di beberapa titik yang sekiranya memiliki tingkat kemacetan yang parah seperti arah BNN menurut saya lebih baik dibuatkan jalan layang sendiri untuk Transjakarta. Gambar di atas sedikit terlihat jalanan yan ada di bawah cukup ramai, sedangkan jalan layangnya cukup sepi. Memang kenyataannya, pemerintah telah membagi jalan besar untuk tiap-tiap kendaraan salah satunya Transjakarta. Namun, ada saja yang masih melanggar hingga akhirnya, Transjakarta yang jalan di “jalannya” sendiri mengalami kemacetan. Lebih baik lagi kalau seluruh akses atau jalan koridor yang beroperasi dibuatkan jalan layang saja. Akhir-akhir ini, pemerintah menggalakkan pembangunan tol di beberapa daerah. Tentu ini menjadi suatu pro-kontra di masyarakat. Ada yang mendukung pembangunan jalan tol, ada pula yang tidak. Yang tidak mendukung dapat dikatakan orang-orang yang mungkin tidak dapat menikmati jalan tol itu sendiri. Banyak faktornya. Salah satunya, tidak memiliki mobil pribadi. Agaknya masuk akal apabila orang-orang bermobil yang mendukung pembangunan jalan tol ini, karena sudah dipastikan mereka dapat merasakannya.

Ketika sedang menunggu bus, saya memberanikan diri untuk sedikit berbincang dengan bapak-bapak yang hendak berangkat ke kantor. Setiap hari ia menggunakan Transjakarta karena memang tidak memiliki mobil pribadi. “Kalau saya punya mobil, ya asyik sekali, Mbak. Dibuatkan jalan tol oleh pemerintah. Tapi kan, kenyataannya saya ndak punya mobil, to. Ya hitung-hitung mengurangi polusi, Mbak naik kendaraan umum. Meskipun kayaknya gak berkurang-kurang (polusinya)” ucap Bapak tersebut. Di lain kesempatan, lagi-lagi saya mewawancarai seseorang. Kali ini, saya mewawancarai seorang Ibu muda. “Sebenernya suami punya mobil, cuma saya emang gak mau kalau ditawarin naik mobil bareng suami. Lebih enak aja gitu naik Transjakarta, apalagi kalau gak kena macet” ungkapnya. Selain itu, saya juga mewawancarai sanak keluarga yang kebetulan selalu bawa mobil jika pergi ke kantor. “Enakan bawa mobil sendiri, pemerintah udah buatin tol. Naik kendaraan umum mah ya macet. Emang sih murah” kata Om saya.

Dari pernyataan Ibu dan Om saya tadi, saya menyimpulkan bahwa Transjakarta ini sebetulnya banyak keuntungannya, namun di satu sisi memang memikirkan kemacetannya. Dihargai 3.500 rupiah untuk sekalian “tap” kartu menurut saya sudah sangat murah sekali. Hanya saja kendalanya memang kemacetan ini. Mungkin kalau pemerintah membangun jalan layang untuk Transjakarta, armadanya ditambah, saya kira banyak orang yang lebih memilih naik kendaraan umum. Sudah pasti ramah lingkungan, sampai tujuan dengan tepat waktu karena tidak macet, armadanya banyak dan tidak harus menunggu lama lagi. Saya kira kalau pebangunan tol terus benar yang dikeluhkan “tim kontra”, yang dapat menikmati hanya yang memiliki mobil pribadi. Masalah kemacetan yang terjadi di tol salah satunya mungkin karena setiap tahunnya, pemilik kendaraan pribadi (mobil) selalu bertambah. Apalagi kalau “dimanjakan” dengan adanya pembangunan jalan tol, menurut saya peminat kendaraan pribadi akan terus melonjak.

Contoh kemacetan di jalan tol
Saya mengutip berita dari artikel https://finance.detik.com/infrastruktur/d-4834306/japek-masih-mampet-jadi-bukti-bangun-jalan-bukan-solusi-macet; Pengamat transportasi sekaligus akademisi dari Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno menganggap membangun jalan tetap bukan solusi mengatasi kemacetan. Buktinya, kemacetan tol Japek yang telah dibangun bertingkat nyatanya tetap tak berkurang. "Menandakan jika ingin mengatasi kemacetan bukan menambah kapasitas jalan. Tapi harus segera menambah kapasitas transportasi umum," katanya lewat pesan singkat seperti dikutip detikcom, Selasa (24/12/2019).

Namun lagi-lagi saya hanya menyuarakan pendapat saya, yang berwenang atas masalah ini ya tentu pemerintah. Dan pasti sudah banyak pertimbangan dan alasan juga mengapa pemerintah membangun jalan tol di beberapa titik. Mungkin cukup sekian pendapat saya. Terimakasih. Mohon maaf apabila ada salah-salah kata, tulisan ini tidak bermaksud menyindir pihak manapun.

Wassalamua’alaikum.

2 Komentar

  1. Setuju mbak, kalau tras Jakarta di buatkan jalan layang sehingga menghubungkan jabodetabek insyaallah perjalanan jd lancar sehingga warga dg sendirinya akan memilih naik trans Jakarta ketimbang naik mobil pribadi.

    BalasHapus
  2. Benar sekali mbak khoirunnisaaaa. Aku pun merasakan kemacetannya. Jagorawi kalau pagi uuuh macet sekali, padahal itu tol(: isinya rata2 kendaraan pribadi.

    BalasHapus